Rabu, 13 Oktober 2010

Rumah Sakit Luar Negeri, Mengapa??

KENAPA HARUS RUMAH SAKIT LUAR NEGERI

Berobat ke luar negeri, selintas terlihat bagus, elit dan menjamin sembuh. Saya rasa tidak semuanya itu benar.
Dewasa ini muncul kecenderungan masyarakat Indonesia umumnya dan Medan sekitarnya untuk berobat keluar negeri terutama ke negara tetangga Malaysia dan Singapura. Walau belum ditemukan angka yang pasti, tetapi kecenderungan jumlahnya dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Malaysia Tourist Board Medan (2005), diperkirakan ± 600 ribu masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri (Malaysia dan Singapura) per tahunnya, di mana ± 100 ribu di antaranya berasal dari Sumatera Utara. Perkembangan ini tentu kurang menggembirakan bagi ”pelayan kesehatan” di Indonesia umumnya dan Sumatera Utara, Kota Medan khususnya, baik rumah sakit pemerintah maupun swasta. Bila kondisi di atas terus berlanjut dapat berdampak pada kelangsungan rumah sakit yang ada di Indonesia. Bukan tidak mungkin di masa mendatang, hanya kalangan yang tidak mampu saja yang berobat di dalam negeri sedang kalangan yang mampu ke luar negeri. Bila ini terjadi maka akan banyak rumah sakit di dalam negeri yang bangkrut dan tutup
karena ketiadaan dana.
Kenapa hal ini bisa terjadi?
Jawaban sementara masyarakat yang pernah berobat ke luar negeri beragam, di antaranya:
1. Berobat di luar negeri lebih cepat sembuh.
2. Fasilitas dan teknologi yang dimiliki lebih canggih dan modern.
3. Penanganan terhadap pasien lebih cepat dan akurat.
4. Pelayanan dari petugas kesehatan lebih ramah dan terbuka.
5. Biaya perobatan yang dikeluarkan ada kalanya lebih murah dibandingkan di dalam negeri.
Faktor penyebab berobat ke luar negeri berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Sumatera Utara Medan 2005 ada dua faktor yang menyebabkan mengapa masyarakat berobat ke luar negeri, yakni: faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari rasa kurang yakin akan kemampuan paramedis di dalam negeri, butuh pelayanan yang lebih baik, ingin cepat sembuh, percaya pada diagnosis yang diberikan oleh dokter dan transparansi mengenai penyakit yang diderita. Yang menonjol di dalam faktor internal adalah, kurang yakin akan kemampuan paramedis di dalam negeri (36,5%). Persentase faktor-faktor lainnya dapat dilihat dari tabel.




DAMPAK MENINGKATNYA MINAT MASYARAKAT BEROBAT KE LUAR NEGERI
A. Dampak terhadap perkembangan rumah sakit di dalam negeri.
B. Dampak Ekonomis.
Dari segi ekonomis, kecenderungan peningkatan masyarakat Sumatera Utara yang berobat ke luar negeri berdampak pada mengalirnya uang ke luar negeri (cash out). Dari hasil survei yang dilakukan bahwa rata-rata masyarakat Sumatera Utara menghabiskan ± Rp 2.090.000,-/orang per kunjungan di rumah sakit luar negeri. Sebagai gambaran, berdasarkan data yang diperoleh dari Malaysia
Tourist Boad, setiap tahun diperkirakan jumlah masyarakat Sumatera Utara yang berobat ke luar negeri (Malaysia dan Singapura) ± 100 ribu orang per tahun, berarti dalam setahun terjadi aliran uang keluar negeri sebesar Rp 209.000.000.000,-/tahun. Jumlah tersebut belum termasuk yang berangkat ke  egara-negara lain seperti Amerika, Cina dan sebagainya.

Daftar Pasien Medan yang Berobat ke Singapura (2006)
No Bulan       Inpatient            Outpatient         Total
1 Januari         52                36                88
2 Februari        52                45                97
3 Maret           56                48               104
4 April             40                33                73
5 Mei              51                38               89
6 Juni             48                50                98
7 Juli              45                36                81
8 Agustus        42                42               84
9 September    49                34                83
10 Oktober      49                43               92
11 November   48                32                80
12 Desember   34                39                73
Total             566              476             1042

Data tersebut di atas adalah jumlah pasien yang dirawat di Parkway Group Hospital (Mt. Elizabeth Hospital dan Gleneagles Hospital Singapore). Untuk menyikapi keadaan ini, maka perlu dilakukan beberapa rekomendasi yang dapat diberikan kepada:
1. Ikatan Dokter Indonesia
�� Sebagai wadah profesi bagi dokter-dokter di Indonesia, IDI harus terus menerus mensosialisasikan UU No. 29 Tahun 2004 (dapat di download di sini) kepada para dokter anggotanya. �� Memberikan sanksi dan merekomendasikan pencabutan izin praktik bagi dokter yang melanggar UU tersebut.
�� Memberikan pelatihan secara berkala tentang etika dan malpraktik kepada para dokter anggotanya.
2. Dinas Kesehatan
�� Mensosialisasikan dan memantau pelaksanaan UU No. 29 Tahun 2004.
�� Memberikan sanksi bagi para dokter yang melanggar UU tersebut.
�� Mendorong rumah sakit baik pemerintah maupun swasta agar meningkatkan mutu pelayanan.
�� Mempelopori pembuatan sertifikasi bagi paramedis yang ada.
�� Mengadakan pelatihan medis maupun pelayanan prima kepada para paramedis.
�� Mengadakan perlombaan/penilaian peningkatan pelayanan rumah sakit swasta dan rumah sakit pemerintah lainnya.
3. Rumah Sakit
�� Meningkatkan mutu pelayanan terhadap pasien.
�� Melakukan pembenahan terhadap manajemen rumah sakit.
�� Melakukan benchwarming ke rumah sakit di luar negeri yang selama ini merupakan tujuan masyarakat Indonesia umumnya dan Sumatera Utara khususnya bila berobat atau medical checkup.
�� Memberikan pelatihan tentang pelayanan prima kepada para paramedis.
�� Mengatur sistem penggajian dokter dan paramedis.
�� Insentif % honor dokter diberikan tepat waktu dan transparan.
�� Membuat sistem pelayanan kesehatan terpadu (satu paket) agar mempersingkat waktu pelayanan.
�� Lebih selektif dalam memilih dokter maupun paramedis yang akan dipekerjakan.
�� Melengkapi peralatan dan fasilitas sesuai standar dan strata yang berlaku.
�� Memperbaiki Teknologi Sistem Informasi.
�� Menciptakan suasana kompetisi bagi paramedis agar memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien. Paramedis yang memberikan pelayanan terbaik diberi penghargaan.
�� Menjadikan rumah sakit sebagai lembaga bisnis yang berwawasan sosial.
�� Membuat motto ”pasien adalah pelanggan”.
4. Dokter
�� Mematuhi segala ketentuan yang ditetapkan UU No. 29 Tahun 2004 tentang pembatasan jumlah tempat praktik dokter.
�� Memberi keleluasan waktu berkonsultasi kepada para pasien tentang jenis penyakit yang dideritanya.
�� Memberikan kewenangan pada batas-batas tertentu kepada paramedic untuk dapat mengambil keputusan terhadap pengobatan yang akan dilakukan.
�� Insentif yang jelas dan tepat waktu.
5. Paramedis
�� Mematuhi segala ketentuan yang ditetapkan Depkes dan rumah sakit.
�� Diberikan kewenangan untuk menangani penyakit-penyakit ringan dari mulai pemeriksaan sampai dengan pengobatan sehingga meringankan kerja dokter.
�� Meningkatkan keramah-tamahan, perhatian, dan keterampilan di bidang medis sehingga dapat memberikan pelayanan kepada pasien.
�� Insentif yang jelas dan tepat waktu.
6. Asuransi Kesehatan
�� Memberikan pelayanan yang terbaik kepada nasabah dalam hal:
o Mempermudah proses adminisrtrasi pembayaran (klaim) asuransi kepada nasabah.
o Mengunjungi rumah sakit saat nasabah dirawat sehingga keabsahan data klaim dapat dipertanggungjawabkan dan klaim nasabah kepada asuransi lain tidak terhambat.
�� Memperluas jaringan pelayanan ke seluruh rumah sakit di dalam negeri terutama rumah sakit besar dan ternama.
�� Transparansi jasa dan insentif dokter.
�� Pembayaran tepat waktu.
7. Laboratorium Kesehatan
�� Melengkapi peralatan-peralatan yang ada agar setara dengan laboratorium   di luar negeri.
�� Meningkatkan keakuratan hasil pemeriksaan.
�� Memiliki minimal sertifikat SNI: 19-17025-200, yaitu persyaratan umum kompetensi laboratorium pengujian yang meliputi gedung, peralatan laboratorium dan SDM. Jika hasil pemeriksaan/pengujian ingin diakui di luar negeri laboratorium yang ada harus bersetifikasi internasional (ISO).
8. Pemerintah
�� Membebaskan bea masuk bagi alat-alat kedokteran, laboratorium, dan perlengkapan lainnya.
�� Membuat Perda yang rasional dan transparan tentang pelayanan


 Setelah kita tahu beberapa survey di atas, mungkin dapat dijadikan bahan refrensi kebijakan konsumen/ pasien memilih Rumah Sakit. Baik segi biaya, kualitas, waktu, keadaan penyakit pasien, atau kecenderungan saja/ isu saja dari opini orang terdekat/ orang ketiga.
Saran penulis adalah perkembangan ilmu medis yang dimiliki para dokter dan perawat di indonesia sangat pesat. banyak Rumah sakit yang sudah menerapkan standar nasional dan internasional. Sebelum memutuskan berobat ke luar negeri sebaiknya di konsulkan dulu dengan dokter spesialis. Apakah penyakitnya bisa di obati di Indonesia? Apakah kondisi pasien mampu untuk di bawa ke luar negeri? Atau pertimbangan yang lain yang biasanya dokter sepsialis lebih tahu.
Untuk Rumah sakit atau tenaga medis di Indonesia data di atas mungkin akan menjadi semangat tersendiri dalam memenangkan persaingan kualitas dan pelayanan.
Semoga bermanfaat.


SUMBER :
-       Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara : Prof. Dr. Achsanuddin Hanafie Sp.An KIC, 2007

Baca Selengkapnya di Sini »

Senin, 11 Oktober 2010

Asuhan keperawatan dengan meningitis

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSYARAFAN : MENINGITIS



PENGERTIAN  MENINGITIS  :   yaitu peradangan (infeksi) pada selaput meningen yang menutupi otak dan mendula spinalis.

ETIOLOGI

1.  Bakteri Akut          :   Pnemococcus
                                      Stapilococcus
                                      Streptococcus
                                      Salmonella, dll
                                      Virus Hemofilus Influenza,
                                      Herpes Simplex
                                      Meningococcus
2.  Bakteri Sub Akut/Kronis : Tuberkulosa
Ad 1.

-   Neomatus (< 30 hari)
- Gram Negatif Entero Basiler
- Streptococcus B
- Listeria monositogenes
-    Bayi (30 hari – 2 tahun)
-    Streptococcus B
-    Hemofilus influenza
-    Neiseria Meningitis
-    Balita (2 taun – 5 tahun)
-    Hemofilus Influenza
-    Neiseria Meningitis
-    Streptococcus Penumoni
-    Anak sampai dengan remaja
-    Neiseria Meningitis
-    Streptococcus Aureus
-    Hemofilus Influenza



PATOFISIOLOGI

Mikro organisme penyebab dapat masuk mencapai membran meningen dengan berbagai cara antara lain:
-    Hematogen/Simpatik
-    Bakteriemi/Sepsis
-    Melalui Rinore kronis ataupun Rekuren
-    Langsung masuk cairan cerebrospinalis
·         Inplantasi langsung                  Luka terbuka kepala
·         Perluasan langsung infeksi      - telinga tengah
                                                   - sinus paranasalis
                                                   - wajah
·         Perluasan tromboplebitis kortikal dan abses otak.
Efek peradangan tidak terbatas, dapat mengenai ketiga lapisan meningen dan ruang-ruang berada diantara lapisan. Dapat pula infeksi mengenai jaringan otak disebut Meningo-Encephalitis dan jika mengenai pembuluh darah disebut Vaskulitis.
Efek pathologis yang terjadi antara lain:
1. Hyperemia meningens
2. Edema jaringan otak
3. Eksudasi
Perubahan-perubahan tersebut akan memberikan dampak terhadap peningkatan tekanan intra kranial dan Hidrocephalus (pada anak-anak). Hydrocephalus terjadi bila eksudat menyumbat sirkulasi cairan cerebrospinalis. Eksudat juga dapat menetap di jaringan otak dan menyebabkan abses otak.

GEJALA

-          Demam, peningkatan suhu tubuh yang sangat menyolok
-          Nyeri kepala
-          Penurunan kesadaran
-          Mendadak shock
-          Hipotensi
-          Takikardi
-          Peningkatan rangsangan meningen
-          Kejang
-          Kadang-kadang penderita koma.
Faktor Predisposisi
-          OMP
-          Mastoiditis
-          Pnemoni
-          DM
-          Trauma kepala
-          Abses otak
-          Furunkulosis
-          Selulitis
-          Leukemi
-          Hodkin's disease
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan cairan cerebrospinalis baik secara makrokopis maupun mikroskopis:
-          Tekanan meninggi
-          Purulen
-          Keruh
-          Jumlah lekosit naik
-          Jumlah sel PMN (Polimorfonukleus) bertambah
Pemeriksaan tambahan
-          Ro" Foto kepala
-          Ro" Foto Paranasalis
-          Ro" Foto Mastoid
-          Ro" Foto Thorak
-          EGG
-          Scan Kepal

TERAPI

-          Antibiotika dosis tinggi
-          Tergantung faktor predisposisi/sesuai penyebabnya.

Ad 2.
Yaitu Meningitis Tuberkulosa
Pathofisiologi
Meningitis terjadi bukan karena terinfeksinya meningen secara langsung oleh penyebaran hematogen, melainkan secara sekunder akibat komplikasi penyebaran TBC paru, biasanya melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah ke dalam rongga arakhnoid perkontinuitatum dari mastoditis atau spondilitis.
Peradangan ditemukan sebagian besar pada dasar otak, terutama pada batang otak tempat terdapat eksudat dan tuberkel.

GAMBARAN KLINIS

1.  Stadium Prodomal
     - Iritasi selaput otak
     - Kenaikan suhu tubuh ringan
     - Anak mudah terangsang atau anak menjadi apatis
     - Tidur sering terganggu
     - Pada anak besar mengeluh nyeri kepala, anareksia, obstipasi dan muntah.
2.  Stadium Transisi
     - Kejang
     - Kaku kuduk
     - Reflek tendon menjadi lebih tinggi
     - Ubun-ubun menonjol
     - Terdapat kelumpuhan syaraf mata : Strabismus dan nistagmus
     - Suhu tubuh lebih tinggi
     - Kesadaran menurun hingga stupor
3.  Stadium Terminal
     - Terjadi kelumpuhan-kelumpuhan
     - Koma
     - Pupil melebar dan tidak bereaksi
     - Nadi, pernafasan tidak teratur (pernafasan cyene stokes)
     - Hiperpireksia

PEMERIKSAAN  PENUNJANG
-    LCS:
-    Ro" Thorak Abnormal
-    Kenaikan Rangsangan Meningen      :  - Kaku kuduk
                                                                - Kernig +
                                                                - Brudzinski +
 
TERAPI
-    Dasar pengobatan Meningitis TBC adalah kombinasi obat anti TBC ditambah dengan konsikosteroid.
-    Pengobatan simptomatik bila terdapat kejang.
-    Koreksi dehidrasi akibat masukan makanan yang kurang atau muntah.
-    Fisioterapi


MASALAH-MASLAH  KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL

1.  Perubahan perfusi jaringan serebral: yang berhubungan dengan gangguan sirkulasi darah serebral atau peningkatan tekanan intrakranial (TIK), hipovolemia.
 Kriteria Hasil/Tujuan:
-          Tingkat kesadaran pasien akan membaik atau dipertahankan
-          Fungsi motorik dan sensorik baik
-          Tanda-tanda vital stabil
-          Nyeri kepala berkurang atau hilang
-          Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial

INTERVENSI KEPERAWATAN
1.    Ukur TIK dengan akurat dan pantau hasil pengukuran secara kontinyu.
2.        Catat hasil pengukuran TIK setiap  jam dan bila terjadi perubahan.
3.        Tinggikan bagian kepala tempat tidur 150 – 300 sepanjang waktu.
4.        Gunakan sistem pengkajian neurologi secara konsisten, misalnya dengan skala Koma Glasgow.
5.        Evaluasi hal-hal berikut setiap jam.
-    Tingkat kesadaran
-    Ukuran pupil
-    Reaksi pupil terhadap cahaya (kecepatan maupun ukuran)
-    Kesamaan
-    Gerakan ekstremitas
-    Beri seikit stimulasi untuk mendapatkan reaksi pasien.
-    Kesesuaian respon pasien terhadap lingkungan atau stimulasi.
-    Ada tidaknya refleks-refleks.
-    Semua gerakan involunter seperti kejang, kedutan atau fungsi motorik asimetris.
-    Tekanan darah.
-    Frekuensi dan irama jantung.
-    Frekuensi dan irama pernafasan.
6.        Jika ventilasi dikontrol oleh tentilator mekanik, pertahankan PCO2 yang rendah 18-25 untuk mencegah vasodilatasi serebral.
7.        Kendalikan lingkungan untuk menurunkan stimulasi, batasi kontak dengan pasien pada prosedur-prosedur yang penting.
8.        Berikan obat kontikosteroid sesuai pesanan dokter.
9.        Pertahankan keakuratan intake dan output.
10.    Antisipasi dehidrasi, pantau urine dan elektrolit.
11.    Pertahankan suhu tubuh normal dan mencegah menggigil.
12.    Berikan sedatif dan pelemah otot sesuai pesanan dokter seperti diazepam atau pavulon.
13.    Berikan hiperventilasi sebelum melepas ventilator untuk sunction.

2.  Pola pernafasan tidak efektif : yang berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran, hipoventilasi berat atau komplikasi pulmonal, peningkatan TIK.   
    
    Kriteria Hasil/Tujuan:
·         Klien memperlihatkan pola pernafasan yang efektif
-    Ekspansi dada simetris.
-    Bunyi nafas jelas ketika auskultasi.
-    AGD dan tanda vital dalam batas normal.
-    Tidak terdapat distres pernafasan.

     INTERVENSI KEPERAWATAN
1.        Kaji kemampuan untuk mempertahankan patensi jalan nafas.
2.        Kaji refleks yang penting untuk bernafas adekuat : batuk, "gag" refleks menelan.
3.        Kaji frekuensi, kedalaman, keteraturan pernafasan dan ekspansi dada.
4.        Kaji suara nafas untuk mengetahui perpindahan udara pada semua bidang paru.
5.        Pertahankan ketinggian bagian kepala tempat tidur.
6.        Kaji AGD untuk membuktikan pertukaran gas yang adekuat setiap hari dan kalau perlu.
7.        Pertahankan hiperventilasi jika diperlukan ventilator mekanik.
8.        Waspada terhadap dampak obat-obat depresan atau sedatif.
9.        Pantau frekensi dan irama jantung.
10.    Lakukan suction sesuai kebutuhan, berikan hiperventilasi sebelum prosedur dilakukan.
11.    Nilai hasil laporan foto dada setiap hari.

3.  Ketidakefektifan termoregulasi : yang berhubungan dengan proses infeksi.
     Kriteria Hasil/Tujuan:
·         Pasien dalam keadaan normotermi suhu tubuh 370 C

 

INTERVENSI KEPERAWATAN

1.      Periksa/pantau suhu tubuh dengan teratur.
2.      Cegah menggigil dengan menurunkan suhu tubuh secara bertahap.
3.      Gunakan selimut pendingin sesuai pesanan.
4.      Berikan antipiretik seperti sistenol sesuai pesanan.
5.      Berikan antibiotik sesuai pesanan.
6.      Kontrol suhu lingkungan.
7.      Pertahankan teknik aseptik pada semua prosedur.

4.  Gangguan rasa nyaman : nyeri kepala yang berhubungan dengan iritasi jaringan serebral, sirkulasi toxin.
     Kriteria Hasil/Tujuan:
·         Nyeri berkurang atau hilang
·         Klien tampak relaks
·         Klien dapat tidur dan istirahat dengan baik

INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Ciptakan lingkungan yang tenang, jauh dari stimulus yang berlebihan seperti kebisingan, cahaya yang berlebihan/silau.
2.      Pertahankan tetap bed rest.
3.      Pertahankan posisi yang nyaman bagi pasien.
4.      Lakukan massage pada daerah leher, otot bahu dan pinggang.
5.      Gunakan penghangat di daerah leher, dan punggung bisa berupa balsem atau handuk yang dihangatkan.
6.      Berikan analgesik dengan waktu yang teratur, sesuai pesanan.

5.  Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh : yang berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran nafsu makan menurun, mual, muntah, ventilasi mekanik atau peningkatan kebutuhan metabolisme.
     Kriteria Hasil/Tujuan:
·         Pasien dapat beradaptasi dengan perubahan pemberian nutrisi
- Tidak muntah, tidak diare, mukosa mulut dan bibir tidak kering.
·         Nutrisi yang adekuat dapat dipertahankan

INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Pertahankan status NPO (puasa) sampai pengkajian sempurna.
2.      Evaluasi refleks-refleks batuk "gag" dan menelan.
3.      Auskultasi abdomen untuk mendengarkan bising usus setiap 8 jam.
4.      Jika klien tidak mampu mengunyah dan menelan, pasang selang makan yang mempunyai dinding tipis dan lunak.
5.      Pastikan letak NGT dengan radiograf pada awalnya dan setiap 8 jam dengan auskultasi untuk memasukkan udara, aspirasi isi lambung dengan spuit atau dengan memasukkan air.
6.      Lakukan pemberian makan per NGT dalam jumlah kecil dan konsentrasi rendah. Tingkatkan jumlah dan kepekatan sesuai yang dapat ditoleransi dan sesuai pesanan.
7.      Hentikan pemberian makan melalui NGT jika residu dalam lambung banyak, atau terjadi regurgitasi.
8.      Pertahankan ketinggian bagian kepala tempat tidur selama pemberian makanan per NGT.
9.      Atas diare dengan agen-agen antidiare.
10.  Berikan kalori dan cairan bebas baik per oral atau NGT.
11.  Timbang berat badan setiap hari, jika TIK telah stabil.
12.  Pantau cairan dan elektrolit setiap hari atau kalau perlu.
13.  Berikan Nutrisi Parenteral sesuai pesanan dokter.

6.  Ptensial terhadap cedera : yang berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran, gelisah, atau gerakan involunter seperti aktivitas kejang.
Kriteria Hasil/Tujuan:
·         Pasien akan terbebas dari cedera

INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Evaluasi risiko pasien terhadap cedera setiap 8 jam atau sesuai kebutuhan.
2.      Jika klien gelisah, beri bantalan pada tirali tempat tidur, jaga agar kedua sisi tirali tempat tidur terpasang ke atas, jaga tempat tidur dalam posisi rendah dan restrain pasien dengan restrain lembut atau gunakan vest/jaket sesuai kebutuhan.
3.      Jika tingkat kesadaran pasien menurun, ubah posisi setiap 2 jam baringkan pasien dalam posisi fungsi anatomi.
4.      Lakukan latihan ROM pasif, jika tidak kontra indikasi dengan peningkatan TIK.
5.      Pertahankan hygiene bronkhial.
6.      Baringkan klien dalam posisi yang dapat mencegah aspirasi.
7.      Gunakan stoking antiemboli.
8.      Gunakan alas kaki untuk mencegah footroop.
9.      Kaji integritas kulit setiap 8 jam.
10.  Jaga kulit tetap bersih, kering dan terbebas dari sisa sabun yang keras atau zat kimia.
11.  Tingkatkan mobilitas, dudukkan pasien di kursi, segera mungkin jika telah memungkinkan secara medis untuk meningkatkan aktivitas pasien.










DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, 1998, Diagnosa Keperawatan, Edisi Vi, Penerbit buku kedokteran, EGC, Jakarta.

Hudak dan Gallo, 1996, Perawatan Kritis, Edisi VI, Volume II, Penerbit buku kedokteran, EGC, Jakarta.

Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, 1995, Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Ganggungan Persyarafan, Jakarta.

Sutanto, 1998, Mata Ajaran Gangguan Sistem Persyarafan, tidak diterbitkan, Yogyakarta.

Baca Selengkapnya di Sini »